DRAMA

Kalau sejarah game komputer diukur sejak eksistensi produser Atari, maka industrri game sudah berusia sekitar 30 tahun. Walawpun begitu, dalam game bisa ditemukan prinsip-prinsip yang sudah dikenal sejak jaman Aristoteles. Skema asli komposisi cerita, konflik, dan karakter, yang kemudian dilengkapi dengan skema lima tingkat (eksposisi, konflik, krisis, turn around point, dan katastrofi) bisa ditemukan dalam kebanyakan game sampai sekarang. Dalam game-game yang memiliki cerita utuh, bukan hanya adventure, bangunan cerita seperti itu kelihatan jelas. Eksposisi dalam game diwakili oleh intro. Tetapi misalnya dalam Mafia, eksposisi berlangsung selama beberap level, di mana pemain bekerja bekerja sebagai pengemudi taksi dan mempelajari lingkungan kota tempat peristiwa-peristiwa selanjutnya akan terjadi. Beberapa level pertama dalam strategi perang juga biasanya merupakan bagian eksposisi di mana tidak ada pertempuran, hanya pembangunan basis atau kegiatan produksi.

Kemudian menyusul konflik. Tokoh utama dalam game permainan bertemu dengan tokoh lain, atau dengan musuh. Ini paling jelas dalam adventure atau RPG, di mana biasanya muncul lawan atau musuh utama yang menyusahkan sang tokoh utama. Dalam Syberia, tokoh utama Kate mengetahui bahwa pemilik pabrik mobil meninggal sehingga Kate harus berurusan dengan pewarisnya, maka itu adalah konflik. Kalau dalam Diablo tokoh utama bentrok dengan musuh-musuh pertama, itu bisa dianggap konflik. Dalam Mafia, eksposisi berakhir ketika Tommy menerima pekerjaan di dalam Family. Dalam strategi, konflik dimulai dengan pernyataan perang, serangan pertama, dan sebagainya.

Krisis berlangsung sampai saat keadaan memuncak, yang disebut krisis. Setelah krisis menyusul turn around point, yaitu suatu reversal atau titik balik yang diduga sebelum akhir cerita. Krisis dalam gam ebisa terjadi ketika tokoh utama bertemu dengan tokoh antagonis, dan perkembangan selanjutnya, di mana seseorang yang dianggap teman ternyata ketahuan sebagai musuh, atau musnah mendapatkan senjata baru yang mengancam tokoh utama, bisa disebut sebagai turn around point.

Dalam genre strategi, pertempuran terakhir adalah krisis, dan turn around point bisa dalam bentuk kehilangan atau menemukan sekutu. Kalau dalam Syberia yang disebutkan tadi Kate menemukan sang pewaris, seorang pemimpin yang meneruskan perjalanan ke utara, maka cerita bisa berakhir. Kate sudah mencapai tujuannya, kontrak jual-beli judah ditandatangani, dan Kate bisa pulang. Tetapi kalau Kate tiba-tiba mengetahui bahwa rekan yang dipercaya telah menipunya (turn around point), maka Kate berubah pikiran dan mencari petualangan lain.

Akhir cerita adalah katastrofi. Pertempuran selesai, musuh (atau pemain) sudah dikalahkan. Dalam hal game komputer, katastrofi biasanya menjadi penyelesaiaan misi atau tugas. Cara penerapan skema ini kepada suatu team pengembang tidak bisa dipaksakan, tetapi kelima tingkatnya selalu bisa ditemukan. Kita tidak boleh melupakan peranan protagonis dan antagonis yang seharusnya ada dalam seiap film atau game. Protagonis dalam kebanyakan game adalah pemain yang harus dihadapakan dengan antagonis supaya bisa berkembang melalui semuafase yang disebutkan dari awal sampai akhir. Tetapi pada tipe game tertentu teori ini harus dibengkokan supaya dapat dicocokkan.

Contoh yang agak kurang jelas adalah game-game multiplayer, misalnya Counter-Strike. Anda adalah sang hero, antagonisnya adalah lawan main Anda. Khusus dalam kasus CS, fase latihan sendiri bisa dianggap sebagai eksposisi. Start adlah konflik, krisis adalah ketika si pembawa bom tiba di tempat tujuan (atau peristiwa lain sesuai tipe misi), tewasnya si pembawa bom oleh peluru sniper menjadi turn around point, dan peledakan bom atau kekalahan salah satu pihak adalah katastrofi.

Pada gae-game logika yang cepat, skema ini lebih susah dicari, tetapi tetap harus ada. Pengenalan aturan permainan-eksposisi. Start-konflik. Limit waktu yang dekat atau layar permainan hampir penuh (kotak-kotak dalam tetris atau bola-bola kecil dalam Bust’aMove)-turn around point. Sukses atau kegagalan –katastrafi.



Source : Level Magazine